38. Allah Al-Hafizh: Yang Maha Memelihara

 

Allah Al-Hafizh: Yang Maha Memelihara

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat.

Di antara nama-nama Allah yang agung dalam Asmaul Husna adalah Al-Hafizh (الحفيظ), yang berarti Yang Maha Memelihara dan Yang Maha Menjaga.

Allah memiliki banyak nama yang mulia, dan setiap nama menunjukkan sifat kesempurnaan-Nya. Nama Al-Hafizh menunjukkan bahwa Allah menjaga seluruh makhluk-Nya, memelihara segala ciptaan-Nya, dan mengatur semuanya dengan penjagaan yang sempurna.

Allah berfirman:

وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

"Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu."

Makna Al-Hafizh bukan sekadar menjaga, tetapi menjaga dengan penjagaan yang sempurna, tanpa celah, tanpa kelemahan, dan tanpa kelalaian.

Setiap makhluk yang Allah ciptakan memiliki batas waktu keberadaan yang telah ditentukan. Itulah yang disebut ajal.

Gunung memiliki masa yang Allah tetapkan. Bumi memiliki masa yang Allah tetapkan. Manusia pun memiliki ajal yang sudah ditentukan.

Ada manusia yang Allah tetapkan umurnya enam puluh tahun, lima puluh tahun, tiga puluh tahun, atau lebih dari itu.

Selama ajal itu belum tiba, Allah menjaga hamba tersebut dari segala sesuatu yang dapat membinasakannya.

Jika Allah telah menetapkan seseorang hidup sampai usia lima puluh tahun, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat mematikannya sebelum waktu itu tiba. Segala sebab yang bisa membinasakannya akan tertolak selama penjagaan Allah masih berlaku atas dirinya.

Inilah makna Allah sebagai Al-Hafizh.

Allah bukan hanya menciptakan, tetapi juga memelihara ciptaan-Nya sampai batas yang telah Dia tentukan.

Perbedaan Penjagaan Allah dan Penjagaan Manusia

Manusia juga menjaga sesuatu, tetapi penjagaan manusia sangat terbatas.

Seseorang dapat membangun rumah dengan perhitungan agar bertahan tiga puluh tahun. Ia memilih bahan terbaik, memperkuat pondasi, memasang pengaman, dan melakukan perawatan.

Namun, rumah itu bisa saja roboh sebelum waktunya karena gempa, banjir, longsor, atau sebab-sebab lain.

Mengapa?

Karena penjagaan manusia lemah.

Berbeda dengan Allah.

Ketika Allah menetapkan sesuatu bertahan selama waktu tertentu, maka Allah sendiri yang menjaganya hingga waktu itu selesai.

Tidak ada sesuatu pun yang dapat merusaknya sebelum masa yang Allah tentukan berakhir.

Kisah Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah dilemparkan ke dalam api yang sangat besar.

Secara hukum alam, api pasti membakar.

Namun, karena ajal Nabi Ibrahim belum tiba, Allah menjaga beliau.

Allah berfirman:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

"Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
(QS. Al-Anbiya: 69)

Api tetap api, tetapi sifat membakarnya Allah cabut.

Mengapa?

Karena Allah Al-Hafizh sedang menjaga Nabi Ibrahim.

Kisah Nabi Yunus

Nabi Yunus ‘alaihissalam ditelan ikan besar dan berada dalam perut ikan di tengah lautan.

Secara akal, manusia tidak mungkin bertahan hidup dalam keadaan seperti itu.

Namun Allah menjaganya.

Karena ajal Nabi Yunus belum tiba.

Selama masa kehidupan yang Allah tetapkan belum selesai, maka Allah akan menjaga hamba-Nya dengan cara apa pun yang Dia kehendaki.

Kisah Nabi Zakaria

Nabi Zakaria ‘alaihissalam pernah bersembunyi di dalam batang pohon untuk menghindari musuh-musuhnya.

Pohon itu menjadi sebab perlindungan baginya.

Namun ketika ajal beliau telah tiba, maka perlindungan itu tidak lagi bermanfaat.

Ini menunjukkan bahwa sebab hanyalah sebab.

Hakikat penjagaan tetap milik Allah.

Jika Allah menjaga, maka apa pun dapat menjadi pelindung.

Jika Allah tidak lagi menetapkan penjagaan, maka pelindung sebesar apa pun tidak akan mampu menyelamatkan.

Semua yang Kita Miliki Hanyalah Titipan

Apa pun yang kita miliki pada hakikatnya hanyalah titipan Allah.

Rumah, kendaraan, harta, jabatan, dan seluruh kenikmatan dunia bukan benar-benar milik kita.

Semua itu dipinjamkan oleh Allah untuk jangka waktu tertentu.

Selama masa itu masih berlaku, Allah menjaganya untuk kita.

Namun ketika masa itu selesai, Allah dapat mengambilnya kembali.

Kadang kita sudah mengunci kendaraan dengan rapat, memberi pengaman berlapis, bahkan mengawasinya dengan teknologi canggih, tetapi tetap hilang.

Mengapa?

Karena masa penjagaan Allah atas barang itu untuk kita telah selesai.

Sebaliknya, kadang ada barang yang tampak tidak dijaga, tetapi tetap aman.

Mengapa?

Karena Allah masih menjaganya.

Maka hakikat penjagaan bukan terletak pada kuatnya kunci, tetapi pada penjagaan Allah.

Mengapa Kita Tetap Disuruh Menjaga?

Mungkin muncul pertanyaan:

Jika Allah yang menjaga segala sesuatu, mengapa manusia tetap diperintahkan untuk menjaga?

Jawabannya adalah:

Karena menjaga adalah bentuk ketaatan.

Kita diperintah mengunci pintu, menjaga harta, menutup makanan dan minuman, dan melakukan ikhtiar bukan karena ikhtiar itu yang menentukan hasil, tetapi karena itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar pintu rumah ditutup pada malam hari dan wadah makanan serta minuman ditutup.

Semua itu adalah bentuk adab dan ketaatan.

Bukan karena penutup itu sendiri yang menjaga, tetapi karena Allah memberi pahala atas ketaatan tersebut.

Jadi, ikhtiar adalah ibadah.

Sedangkan hasilnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.

Menjaga yang Lebih Penting: Agama

Jika harta harus dijaga, maka agama lebih utama untuk dijaga.

Kehilangan kendaraan masih bisa diganti.

Kehilangan harta masih bisa dicari.

Tetapi kehilangan agama adalah kerugian terbesar.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah sebagai Al-Hafizh akan menjaga agamanya.

Ia menjaga lisannya.

Menjaga pandangannya.

Menjaga pendengarannya.

Menjaga tangannya.

Menjaga kakinya.

Dan yang paling penting, menjaga hatinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga."

(HR. Bukhari)

Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan menjaga kehormatan adalah sebab besar keselamatan seorang hamba.

Banyak manusia binasa bukan karena tangan atau mata, tetapi karena lisannya.

Lisan dapat merusak agama, merusak hubungan, bahkan merusak akhirat.

Hati yang Harus Dijaga

Agama itu berada di dalam hati.

Dan hati sangat mudah berubah.

Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."

(HR. Tirmidzi)

Hati bisa berubah dengan cepat.

Pagi seseorang beriman, sore bisa tergelincir.

Hari ini taat, besok bisa lalai.

Hari ini cinta kepada agama, besok bisa condong kepada kebatilan.

Karena itu, menjaga iman adalah tugas sepanjang hidup.

Penutup

Meyakini Allah sebagai Al-Hafizh melahirkan dua sikap besar:

Pertama, tawakal kepada Allah dalam semua urusan, karena hanya Allah yang benar-benar menjaga.

Kedua, kesungguhan dalam menjaga amanah Allah, terutama menjaga agama, hati, dan amal.

Segala sesuatu yang Allah takdirkan akan sampai kepada pemiliknya.

Rezeki tidak akan tertukar.

Ajal tidak akan maju dan tidak akan mundur.

Apa yang Allah jaga, tidak akan hilang.

Dan apa yang Allah cabut penjagaannya, tidak akan mampu dipertahankan oleh siapa pun.

Maka gantungkan hati hanya kepada Allah, Sang Maha Pemelihara.

الحفيظ

Yang menjaga kita sejak sebelum lahir, selama hidup, hingga kembali kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

35.Asy-Syakuur

12. Al-Bāri’

MUQODDIMAH ASMAUL HUSNA