53. Allah Al-Wakil

 

Allah Al-Wakil

Berserah kepada Dzat Yang Menanggung Segala Urusan

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang memerintahkan hamba-Nya untuk berserah diri kepada-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau hingga hari kiamat.

Di antara nama-nama Allah yang agung dalam Asmaul Husna adalah Al-Wakil (الوكيل).

Al-Wakil adalah nama Allah yang menunjukkan bahwa Dialah tempat penyerahan segala urusan, Dzat yang menanggung, menjamin, mencukupi, dan memelihara siapa saja yang menyerahkan urusannya kepada-Nya.

Makna Al-Wakil bukan sekadar “wakil” sebagaimana yang dipahami manusia dalam urusan dunia. Al-Wakil adalah Dzat yang apabila seorang hamba menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya, maka Allah sendiri yang akan menjamin kemaslahatan urusan itu.

Allah yang mencukupi.

Allah yang menjaga.

Allah yang mengatur.

Allah yang menyelesaikan.

Karena itu, siapa yang benar-benar menjadikan Allah sebagai Al-Wakil dalam hidupnya, ia tidak akan pernah merasa sendiri menghadapi persoalan hidup.

Perintah Menjadikan Allah Sebagai Wakil

Allah berfirman:

فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

"Maka jadikanlah Dia sebagai Wakil."

(QS. Al-Muzzammil: 9)

Ayat ini adalah perintah agar manusia menjadikan Allah sebagai tempat penyerahan segala urusan.

Rumah kita, kendaraan kita, keluarga kita, usaha kita, bahkan diri kita sendiri, semuanya hendaknya diserahkan kepada Allah.

Bukan berarti kita tidak berusaha, tetapi hati kita menggantungkan hasil hanya kepada-Nya.

Allah juga berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

"Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Wakil."

(QS. Al-Ahzab: 3)

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah sudah cukup sebagai tempat bergantung.

Manusia bisa lemah.

Manusia bisa lupa.

Manusia bisa gagal.

Tetapi Allah tidak pernah lemah, tidak pernah lupa, dan tidak pernah gagal.

Nabi Ibrahim dan Tawakal yang Sempurna

Di antara contoh agung tentang tawakal adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Ketika beliau dilemparkan ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau tidak mengandalkan kekuatan siapa pun.

Beliau hanya berkata:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Wakil."

Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi penyerahan total kepada Allah.

Apa yang terjadi?

Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Karena siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, Allah akan menjamin keselamatannya sesuai kehendak-Nya.

Rasulullah dan Para Sahabat

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mendengar ancaman dari musuh yang hendak menyerang mereka, mereka tidak gentar.

Mereka justru berkata:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Allah mengabadikan keadaan mereka dalam Al-Qur’an:

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tanpa ditimpa keburukan apa pun."

(QS. Ali ‘Imran: 174)

Ini menunjukkan bahwa tawakal melahirkan keteguhan hati.

Ancaman manusia menjadi kecil ketika hati sudah menyerahkan urusan kepada Allah.

Hakikat Tawakal

Tawakal adalah pekerjaan hati.

Ia bukan pekerjaan tangan, kaki, atau lisan.

Tangan bekerja.

Kaki berjalan.

Lisan berbicara.

Tetapi hati berserah.

Inilah hakikat tawakal.

Seseorang bisa saja bekerja keras, berdagang, berobat, mengunci rumah, menjaga kendaraan, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah.

Itulah tawakal yang benar.

Bukan meninggalkan usaha.

Bukan meninggalkan ikhtiar.

Tetapi menjadikan ikhtiar sebagai sebab, dan Allah sebagai penentu hasil.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah didatangi seorang lelaki yang bertanya tentang untanya:

“Wahai Rasulullah, apakah aku lepaskan untaku lalu bertawakal kepada Allah?”

Rasulullah menjawab:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Ikatlah untamu, lalu bertawakallah."

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjelaskan keseimbangan antara syariat dan hakikat.

Ikat untamu adalah syariat.

Berserah kepada Allah adalah hakikat.

Keduanya harus berjalan bersama.

Jangan Salah Menyerahkan Urusan

Banyak manusia keliru dalam penyerahan urusan.

Mereka menyerahkan keamanan rumah kepada satpam.

Menyerahkan kendaraan kepada tukang parkir.

Menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah.

Menyerahkan kesehatan kepada dokter.

Padahal semua itu hanyalah sebab.

Hakikat penjagaan tetap milik Allah.

Boleh menyerahkan urusan secara lahir kepada manusia, tetapi hati harus tetap menyerahkannya kepada Allah.

Sekolah hanyalah sebab.

Guru hanyalah sebab.

Dokter hanyalah sebab.

Penjaga hanyalah sebab.

Sedangkan yang sesungguhnya mengurus semua itu adalah Allah.

Kisah Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani

Dikisahkan bahwa Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani memiliki seorang anak yang sulit dididik.

Anak itu dipindahkan dari satu guru ke guru lain, tetapi tetap tidak berubah.

Lalu beliau mendapat ilham: selama ini beliau menyerahkan pendidikan anak itu kepada manusia, tetapi lupa menyerahkannya kepada Allah.

Sejak malam itu beliau bersungguh-sungguh menyerahkan urusan anaknya kepada Allah.

Dan dengan izin Allah, perubahan mulai tampak pada diri anak tersebut.

Pelajaran dari kisah ini adalah bahwa sebab boleh ditempuh, tetapi hati harus tetap kembali kepada Allah.

Doa Ketika Keluar Rumah

Rasulullah mengajarkan doa ketika keluar rumah:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan Allah."

Doa ini mengandung penyerahan urusan kepada Allah.

Rumah yang ditinggalkan.

Keluarga yang ditinggalkan.

Perjalanan yang ditempuh.

Semua diserahkan kepada Allah.

Dan Allah adalah sebaik-baik penjaga.

Tempat-tempat Tawakal

Para ulama menjelaskan bahwa tawakal sangat penting dalam tiga perkara:

1. Tawakal dalam Pembagian Allah

Segala sesuatu sudah Allah bagi.

Rezeki sudah ditentukan.

Jodoh sudah ditentukan.

Ilmu sudah ditentukan.

Kedudukan sudah ditentukan.

Apa yang menjadi bagian kita tidak akan pernah luput.

Allah berfirman:

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ

"Kami telah membagi di antara mereka."

(QS. Az-Zukhruf: 32)

Apa yang telah Allah tetapkan untuk kita pasti akan sampai.

Tidak akan tertukar.

Tidak akan hilang.

Maka tidak perlu gelisah berlebihan.

Usaha adalah kewajiban.

Tetapi hasil sudah berada dalam ilmu Allah.

2. Tawakal dalam Pertolongan Allah

Allah berfirman:

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

"Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian."

(QS. Muhammad: 7)

Jika seseorang membantu agama Allah, memuliakan Islam, dan memperjuangkan kebaikan, maka Allah menjamin pertolongan untuknya.

Maka jangan ragu dalam menolong agama.

Karena janji Allah adalah kebenaran.

3. Tawakal dalam Rezeki dan Pemeliharaan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya sempurna.

Artinya, rezeki yang telah Allah tetapkan pasti akan sampai seluruhnya.

Karena itu Nabi mengajarkan agar mencari rezeki dengan cara yang baik.

Tidak perlu tergesa-gesa.

Tidak perlu zalim.

Tidak perlu menabrak aturan Allah.

Karena rezeki tidak akan lari.

Yang haram tidak menambah jatah.

Yang halal tidak mengurangi jatah.

Maka carilah rezeki dengan cara yang baik, dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Allah Menjaga Kita

Dalam kehidupan ini, manusia sebenarnya lemah.

Bahkan ketika tidur pun, manusia tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

Siapa yang menjaga tubuh saat tidur?

Siapa yang menjaga nafas tetap berjalan?

Siapa yang menjaga jantung tetap berdetak?

Siapa yang menjaga bahaya tidak datang?

Allah.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Allah menugaskan malaikat-malaikat penjaga bagi manusia.

Mereka menjaga manusia dari berbagai bahaya yang belum ditakdirkan menimpanya.

Selama belum menjadi takdir, penjagaan Allah tetap berlaku.

Tetapi ketika takdir telah datang, maka tidak ada yang mampu menolaknya.

Penutup

Beriman kepada Allah Al-Wakil berarti hidup dengan hati yang tenang.

Bukan karena tidak punya masalah.

Tetapi karena tahu kepada siapa urusan diserahkan.

Bekerjalah.

Berusahalah.

Berobatlah.

Jagalah keluarga.

Didiklah anak.

Kuncilah rumah.

Amankan kendaraan.

Tetapi jangan sandarkan hati kepada semua itu.

Sandarkan hati hanya kepada Allah.

Karena manusia hanya sebab.

Sedangkan Allah adalah Al-Wakil.

Dzat yang mencukupi.

Dzat yang menjamin.

Dzat yang memelihara.

Dan Dzat yang tidak pernah mengecewakan hamba yang berserah kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

35.Asy-Syakuur

12. Al-Bāri’

MUQODDIMAH ASMAUL HUSNA